Kamis, 03 Mei 2012

Sikap Abdul Qadir yang Patut kita Teladani

Sebelumnya saya sudah menulis cerita tentang Abdul Qadir dan para perampok dimana di dalam cerita tersebut mengharuskan kita untuk berkata jujur meskipun dengan jujur tersebut nyawa kita akan terancam. Kali ini saya akan membahas sifat-sifat tauladan Abdul Qadir lainnya selain jujur. Begini ceritanya teman-teman....

Ketika Abdul Qadir menuntut ilmu di Bagdah, uang pemberian dari ibunya habis untuk membeli makanan dan alat-alat tulis. Abdul Qadir hidup dalam keprihatinan, dan sering kelaparan karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Meskipun demikian Abdul Qadir tidak mau meminta belas kasihan dari orang lain. Ketika tidak mendapat makanan, Abdul Qadir melaksanakan saum sunnah (puasa sunnah). Jadi sifat Abdul Qadir yang patut kita contoh adalah tidak meminta-minta kepada orang lain meskipun kita dalam keadaan susah. Kalau kita kehabisan uang saku, jangan minta-minta pada orang lain teman, puasa saja. Dengan puasa kita akan mendapatkan tambahan amal baik untuk bekal kita di akhirat nanti, dibanding minta-minta kepada orang lain, akan merendahkan harga diri kita. Kecuali kalau ada orang yang memberi kita, kita tidak boleh sombong lalu menolak kebaikan mereka, terima saja asalkan kita tidak meminta kepada orang tersebut.

Sifat teladan lainnya yaitu......

Setelah 8 tahun belajar di Madrasah Nazimiyah (setara dengan universitas pada zaman sekarang), Abdul Qadir menjadi seorang pemuda yang memiliki pengetahuan luas. Selain jujur, tidak pernah meminta-minta, Abdul Qadir juga rajin belajar teman-teman, makanya waktu belajar di Madrasah Nazimiyah dia merupakan siswa terpandai di sana, setelah lulus pun dia mempunyai banyak pengetahuan yang luas. Jadi teman-teman seharusnya kita menuntut ilmu dari kecil (mulai dr Tk) sampai sekarang kita belajar di universitas dengan memahami bahan pelajaran yang di ajarkan di masing-masing tingkatan sekolah tersebut, bukan menghafal pelajaran tersebut ketika kita akan melakukan tes kemudian beberapa hari kemudian lupa tentang pelajaran itu. Kita sekolah untuk menuntut ilmu bukan untuk mencari nilai!!!!!!!!!!!
Kalau kita menanamkan kata-kata tersebut di dalam hati dan pikiran kita, insyaAllah kita akan belajar untuk memahami bukan untuk mencari skor atau nilai. Berapa persen keberhasilan kita memahami sesuatu ketika kita belajar tergantung dari tekad dan kegigihan yang ada di dalam diri kita, mungkin memang susah awalnya untuk merubah pandangan (mindset) kita tentang hal tersebut, tetapi cobalah dan rasakan sendiri hasil yang akan kalian peroleh dari kerja keras kalian untuk memahami ilmu bukan untuk mencari nilai ketika kita belajar di sekolah atau pun perguruan tinggi.

Sifat yang selanjutnya yang patut di teladani dari Abdul Qadir adalah murah hati, Abdul Qadir sangat pemurah kepada orang lain meskipun hidupnya serba kekurangan. Meskipun Abdul Qadir tidak pernah menolak ketika ada orang lain yang meminta tolong kepadanya dan selalu bertaqwa kepada Allah. Pada saat dia berhadast pun, Abdul Qadir akan segera mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Adbul Qadir selalu dalam keadaan suci.

Karena Abdul Qadir sangat pandai  dalam menyampaikan ceramah, banyak orang-orang non muslim yang menghadiri pengajian Abdul Qadir. Banyak pula di antara orang-orang non muslim tersebut yang menyatakan diri masuk Islam setelah mendengar ceramah-ceramahnya. Abdul Qadir mampu mengobati hati manusia yang sakit karena syirik dan banyak berbuat dosa sehingga mereka kembali ke jalan Allah. Karena hal itulah Abdul Qadir di sebut sebagai dokter ruhani.

Abdul Qadir tidak mau menghormati seseorang karena jabatan atau karena kekayaannya, sebaliknya Abdul Qadir sangat menghormati kaum fakir miskin dan senang sekali duduk-duduk bersama mereka. Tidak seperti orang-orang zaman sekarang yang selalu merendahkan para fakir dan miskin, lebih menghormati orang-orang kaya dan mempunyai jabatan tinggi. Pikiran orang-orang zaman sekarang mungkin sudah teracuni entah oleh apa, sehingga mereka mempunyai pemikiran yang sangat sempit dan malah mendzalimi, mencaci-maki orang yang menurut mereka lebih rendah di banding mereka (takabur) mereka menganggap dirinya lebih mulia dan tinggi juga memandang rendah orang lain karena harta dan jabatannya padahal semua itu adalah milik Allah dan akan di ambil oleh Allah suatu saat nanti. Film-film atau sinetron zaman sekarang pun sepertinya sudah tidak bermutu dan tidak layak untuk di pertontonkan karena saya perhatikan banyak sekali mengajarkan kita untuk menjadi seseorang yang takabur, saling mendzalami sesama saudara seagama dan tidak seagama, mengajarkan kita untuk mencaci-maki orang, mengucilkan orang, merendahkan orang, dan banyak lagi hal-hal negatif yang di sajikan di dalam film tersebut. Dibandingkan dengan hal positifnya sangat sulit di temukan dalam pembawaan film-film zaman sekarang.

Abdul Qadir berkata kepada mereka "Seorang fakir yang sabar, lebih utama daripada orang kaya yang bersyukur. Seorang fakir yang bersyukur, lebih utama dari keduanya. Dan orang fakir yang mau bersabar dan bersyukur lebih utama dari semuanya"

Rutinitas kehidupan Abdul Qadir
Karena pengetahuannya yang luas kaum muslim menggelari Abdul Qadir al-Jilani dengan al-syeikh,yang artinya seorang guru besar. Syeikh Abdul Qadir al-Jilani menyampaikan ceramahnya 3 kali dalam seminggu, yaitu pada hari selasa, rabu, dan jumat. Setiap pagi dan malam mengajarkan tafsir Al-Quran, hadis Nabi, Usul Fiqh, dll. Setelah shalat dzuhur Syeikh Abdul Qadir akan memberikan fatwa mengenai masalah-masalah hukum yang ditanyakan kepadanya. Kemudian pada sore hari sebelum maghrib, Abdul Qadir membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Abdul Qadir baru makan setelah shalat maghrib karena selalu berpuasa setiap hari. Setelah shalat isya, Abdul Qadir baru bisa beristirahat di kamarnya dan tidur sejenak.  Abdul Qadir selalu bangun di malam hari dan menghabiskan malamnya untuk beribadah kepada Allah dengan shalat dan berdzikir. Seperti itulah rutinitas sehari-hari Abdul Qadir yang selalu beribadah dan bertaqwa kepada Allah swt juga sangat baik hati kepada sesama manusia.

Itulah kisah-kisah Syeikh Abdul Qadir al-Jilani yang patut kita teladani sikap dan sifatnya. Selain jujur, dia juga rajin, murah hati, tidak pernah meminta-minta, dll. Semoga kita semua dapat meneladani tokoh besar kita "Syeikh Abdul Qadir al-Jilani" dan mendapatkan manfaat serta pencerahan dari kisah-kisahnya. Amiiinnn ^^

sumber: buku agama islam

Tidak ada komentar :