Kamis, 03 Mei 2012

Kisah al-Kindi

Kali ini saya akan menceritakan tentang kisah al-Kidi atau nama lengkapnya adalah Abu yusuf Ya'qub bin ishak al-kindi. Ayahnya adalah seorang gubernur dan kakeknya al-Ash'ats bin Qais, dianggap sebagai salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Meskipun al-Kindi adalah seorang anak gubernur, dia tidak pernah bermalas-malasan tapi sebaliknya dia rajin dan tekun belajar teman-teman. Karena melihat ketekunan al-Kindi, ayahnya (Ishaq bin Shaleh) mengirim al-Kindi ke Basrah untuk belajar kepada para ilmuan muslim yang banyak bermukim di kota itu. Di kota itu al-Kindi menghafal Al-Quran, mempelajari tata bahasa Arab, kesusastraan, ilmu hitung, ilmu fiqih dan ilmu kalam, akantetapi al-kindi lebih tertarik belajar ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Al-Kindi juga merupakan seorang muslim Arab pertama yang mempelajari filsafat loh teman-teman. Karena hal itu al-Kindi disebut sebagai ahli filsafat Muslim.

Tetapi pada masa pemerintahan al-Rasyid, muncul beberapa ulama yang melarang kaum Muslim untuk mempelajari ilmu filsafat dari buku-buku Yunani karena menurut mereka orang Yunani adaalah orang-orang yang mengutamakan akal dalam mencari kebenaran dan khawatir umat Muslim akan terpengaruh oleh filsafat Yunani sehingga menjauhkan mereka dari ajaran al-Quran. Namun sebagian kaum muslim ada yang tidak menyukai larangan itu, menurut mereka larangan tersebut hanya akan mempersempit cara berpikir mereka dalam mencari kebenaran. Akibat dari perselisihan tersebut munculah dua kelompok kaum Muslim yang saling bertentangan, yaitu kelompok yang melarang mempelajari buku-buku filsafat Yunani dan kelompok yang memperbolehkan mempelajari buku-buku Yunani.

Al-Kindi kemudian menjadi penengah di antara dua kelompok tersebut dan mengajak kaum Muslim untuk hidup saling memahami dan menerima pendapat orang lain. Menurut al-Kindi, kaum Muslim boleh mempelajari buku-buku filsafat Yunani asalkan ilmu pengetahuannya saja yang di ambil bukan ideologi orang Yunani. Dari cerita al-Kindi di atas, sebenarnya sejak dari zaman dahulu kala kita diajarkan untuk saling menghargai pendapat orang lain ketika kita bermusyawarah, mendiskusikan sesuatu terlebih dahulu (musyawarah) sebelum mengambil tindakan yang akan menimbulkan perpecahan. Akan tetapi banyak peristiwa pada zaman sekarang ini yang bertentangan dengan ajaran para tokoh besar di masa lalu, misalnya saja demo-demo para Mahasiswa yang sangat rusuh dan sering kali merusak tempat-tempat umum, menimbulkan kemacetan, menimbulkan korban karena sering bentrok dengan para petugas kepolisian, akan tetapi aspirasi mereka tidak tersampaikan kepada pemerintah yang bersangkutan. Hal itu akan menjadi suatu perbuatan yang sia-sia dan bahkan merugikan orang lain bukan hanya pendemo itu sendiri. Demo tidak sepenuhnya salah akan tetapi coba pikirkan jalan keluar yang lebih tepat untuk menyampaikan aspirasi tersebut, apalagi pendemo kan kebanyakan mahasiswa, seorang manusia yang terpelajar, harusnya bisa lebih berpikir rasional dan kedepan.

Memang harus ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk tercapainya kesejahteraan di dalam suatu Negara, misalnya dengan musyawarah antara wakil-wakil rakyat dan pemerintah yang berkuasa, akan tetapi pemerintah zaman sekarang sudah tidak dapat dipercaya karena korupsinya dan kebanyakan janji-janji palsu pada akhirnya yaaa alangkah malangnya nasib negeri kita ini. Seandainya mereka lebih memahami arti dari kata saling menghargai dan memahami di antara umat manusia mungkin akan beda lagi ceritanya.

lanjut lagi dengan cerita al-Kindi.....
Pengetahuan al-Kindi sangat luas teman-teman, Beliau bisa menyembuhkan orang yang lumpuh. Alkisah, pada suatu hari seorang tetangga al-Kindi di Bagdad yang merupakan saudagar kaya, mengalami musibah atau ujian dari Allah, anaknya tiba-tiba saja lumpuh. Keluarga tersebut sudah mencari tabib kemana-mana akan tetapi tidak ada seorang pun tabib yang bisa menyembuhkan anak mereka. Kemudian ada sesorang yang memberitahukan kepada keluarga saudagar tersebut bahwa al-Kindi adalah seorang ilmuan yang pandai mengobatai penyakit. Dimintalah al-Kindi untuk mengobati penyakit anak saudagar tersebut, dengan pengetahuannya yang sangat luas al-Kindi mampu menyembuhkan penyakit anak saudagar kaya itu.

Di balik kemasyhurannya al-Kindi menyadari bahwa ada orang-orang yang membencinya. Salah seorang dari mereka kemudian menemui khalifah al-Mutawakil dan menjelek-jelekan al-Kindi, karena fitnah yang di sebarkan oleh seseorang itu al-Kindi di tangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam penjara al-Kindi mendapatkan hukuman cambuk sebanyak 50 kali. Perpustakaan al-Kindi yang selama ini telah dirawat dengan baik oleh al-Kindi dihancurkan. Namun beliau tetap menerima itu semua dengan kesabaran karena dia percaya bahwa semuanya itu merupakan ujian dari Allah swt. Subhanallah banget ya teman-teman, sebegitu sabarnya al-Kindi dalam menjalani cobaan yang diberikan oleh Allah swt kepadanya. Kalau kita yang berada pada posisi al-kindi pasti kita tidak akan menerimanya dan akan protes mati-matian karena di fitnah dan perpustakaan kesayangn kita dihancurkan, mungkin juga bakal nangis guling-guling tidak rela perpustakaan tercinta yang susah payah kita rawat dihancurkan dalam hitungan menit.

nah teman-teman semoga ketika kalian membaca kisah al-kindi tersebut kita semua bisa lebih sabar lagi dari yang sebelumnya karena sabar itu tidak mempunyai batasan, hanya terkadang kita termakan emosi kita jadi sering kali berkata "kesabaran gw tuh ada batesannya" sebenarnya itu hanya nafsu semata, jadi hindarilah. Orang sabar di sayang Tuhan, banyak lapak yang tersedia di surga nanti untuk orang-orang yang sabar. Semoga kita termasuk orang-orang sabar tersebut, Amiinn ^^

sumber: Buku Agama Islam

Tidak ada komentar :